Emas dalam Genggaman: Strategi Lakuemas Menghubungkan Teknologi dan Aset Fisik
Freemagz.id – Emas memiliki tempat tersendiri dalam pengelolaan keuangan masyarakat Indonesia. Selain diolah menjadi perhiasan, logam mulia semakin dipertimbangkan sebagai aset untuk menjaga nilai kekayaan dan melengkapi portofolio investasi.
Seiring perubahan kebutuhan konsumen, kemudahan bertransaksi secara digital pun menjadi salah satu faktor yang membentuk perkembangan industri emas.

Melihat peluang tersebut, Lakuemas memperkuat pendekatannya dengan menghubungkan transaksi emas digital, kepemilikan emas fisik, dan jaringan ritel. Upaya ini turut mendapat pengakuan melalui penghargaan “Excellence in Digital Gold Financial Innovation” dalam rangkaian Investor Daily Summit 2026, berdasarkan penilaian tim riset datasatu.com dan dewan juri.
Bagi Co-Founder Lakuemas, Minarni Tanu, pencapaian tersebut merefleksikan perjalanan perusahaan sejak 2018 dalam memperluas akses investasi emas bagi masyarakat. “Perjalanan kami sejak 2018 bukan hanya tentang membangun sebuah platform digital gold, tetapi tentang membangun akses yang lebih mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat untuk mengenal dan berinvestasi emas,” ujar Minarni.
Sebagai bagian dari ekosistem Central Mega Kencana (CMK), yang menaungi MONDIAL, Frank & co., dan The Palace Jeweler, Lakuemas memiliki keterhubungan dengan bisnis perhiasan dan jaringan toko fisik.
Menurut Minarni, sinergi ini berpotensi menghadirkan pengalaman yang lebih terintegrasi bagi konsumen, baik ketika bertransaksi secara daring maupun mengakses layanan secara langsung.
Co-Founder Lakuemas, Handi Irawan, menyoroti persoalan distribusi dan akses yang selama ini menjadi tantangan dalam pasar emas. Teknologi digital dinilai dapat membantu memperluas jangkauan layanan, selama transaksi didukung kejelasan aset yang mendasarinya. “Digital gold bagi kami bukan ‘virtual gold’. Digital adalah cara yang lebih mudah untuk mengakses real gold yang memiliki underlying dan infrastruktur yang jelas,” kata Handi.
Selain layanan jual beli emas digital dan penarikan emas fisik, Lakuemas mengembangkan konsep Gold-as-a-Service. Melalui pendekatan ini, infrastruktur transaksi emas dapat diintegrasikan dengan mitra, termasuk perbankan, perusahaan sekuritas, dan platform perdagangan elektronik.

Lakuemas mencatat lebih dari satu juta pengguna aktif, 1,5 juta pengunduh, serta dukungan lebih dari 150 toko dalam ekosistem CMK. Peluang pasar juga tercermin dari permintaan emas batangan dan koin di Indonesia yang meningkat dari 19,09 ton pada 2020 menjadi 55,82 ton pada 2025, berdasarkan data yang dipaparkan perusahaan.
Meski demikian, kemudahan transaksi perlu disertai pemahaman mengenai risiko investasi. Harga emas dapat berfluktuasi, sementara hasil historis tidak menjamin keuntungan mendatang. Karena itu, literasi menjadi penting agar masyarakat menentukan kepemilikan emas berdasarkan tujuan keuangan, bukan semata-mata mengikuti tren.
Melalui integrasi teknologi, akses emas fisik, dan kolaborasi lintas industri, Lakuemas berupaya memperluas akses investasi sekaligus mendukung perkembangan ekosistem bullion Indonesia yang lebih terhubung.

