Aminoto Kosin hingga Irvnat, Sosok di Balik Perjalanan Musik Amagra membawa Butterflies ke Panggung Dunia
Freemagz.id – Di usia yang masih muda, Amagra memilih untuk tidak terburu-buru mendefinisikan dirinya lewat tren. Penyanyi remaja asal Indonesia ini justru membangun perjalanan musikalnya melalui cerita, karakter vokal, dan emosi yang terasa dekat dengan keseharian generasinya.
Pilihan tersebut terangkum dalam Butterflies, album terbaru Amagra bersama Ninenote Music yang diperkenalkan pada Agustus 2026. Berisi tujuh lagu, album ini menjadi ruang bagi Amagra untuk menerjemahkan berbagai fase perasaan dari jatuh cinta, kerinduan, kehilangan, kebingungan, hingga proses menerima keadaan.

Di tengah lanskap musik Gen Z yang bergerak cepat, Butterflies hadir dengan pendekatan yang lebih personal. Alih-alih mengejar formula yang sedang populer, Amagra mencoba menemukan warna yang terasa autentik dengan tetap mempertahankan karakter vokalnya.
“Butterflies” sendiri dipilih bukan sekadar sebagai judul, melainkan menjadi metafora yang merangkum keseluruhan album. Kupu-kupu mungkin terlihat kecil dan rapuh, tetapi kepakan sayapnya dapat membawa dampak yang jauh lebih besar.
Bagi Amagra, gagasan tersebut mencerminkan perjalanan seseorang dalam menghadapi emosi: sesuatu yang tampak lembut ternyata bisa menyimpan kekuatan.

Konsep itu kemudian dipertemukan dengan gagasan “Badai Perasaan”. Album ini menggambarkan bagaimana emosi dapat datang tanpa aba-aba, berubah, lalu perlahan menemukan titik tenangnya. Nuansa visual yang lebih gelap merepresentasikan fase ketika seseorang berada di tengah gejolak, sementara kupu-kupu menjadi simbol harapan dan kekuatan untuk terus bergerak.
Perjalanan tersebut tidak dibangun sendirian. Amagra kembali bekerja bersama Aminoto Kosin dan Irvnat, dua figur yang telah mendampinginya sejak awal perjalanan musik. Keduanya turut mengembangkan materi yang sesuai dengan karakter vokal sekaligus perkembangan musikal Amagra.
Menurut Aminoto, salah satu tantangan terbesar adalah menemukan keseimbangan antara lirik, melodi, aransemen, dan karakter penyanyi. Lagu yang terdengar baik belum tentu terasa natural ketika dinyanyikan oleh seorang remaja. Karena itu, proses kreatif dilakukan dengan mempertimbangkan bagaimana setiap elemen dapat menjadi bagian dari identitas Amagra.
Proses tersebut juga mendapat perspektif baru melalui keterlibatan The Kennel serta sejumlah musisi internasional. Kolaborasi lintas talenta ini memperluas eksplorasi musikal Butterflies, tanpa menghilangkan karakter utama Amagra.

Album ini terdiri dari tujuh lagu, yakni “Butterflies”, “Masih Rindu”, “Big Girls Don’t Cry”, “Bilang Saja”, “Jalan Buntu”, “Ribbons in the Sky”, dan “Sing”. Jika didengarkan sebagai satu kesatuan, ketujuh lagu tersebut membentuk perjalanan emosional yang bergerak dari gejolak menuju penerimaan.
Perkembangan Amagra juga terlihat dari capaian musiknya. Sejauh ini, karya-karyanya telah mencatat lebih dari 800 ribu streams di Spotify, sementara sound lagu Amagra telah digunakan dalam sekitar 20 ribu unggahan media sosial dengan total 226 juta views. Pengalamannya pun berkembang hingga mencakup kolaborasi internasional dan proyek bersama orkestra.
Melalui Butterflies, Amagra tidak hanya memperkenalkan kumpulan lagu baru. Ia sedang membangun sebuah identitas. Sebuah pengingat bahwa menjadi berbeda tidak selalu berarti harus terdengar paling keras.
Terkadang, karakter justru lahir ketika seseorang berani tumbuh dengan warna yang dipilihnya sendiri. Dan seperti kupu-kupu yang menjadi inspirasinya, sesuatu yang tampak lembut belum tentu kehilangan kekuatan.

