Lestari Tradisi: Bandung 1990 Angkat Kekayaan Seni dan Budaya Sunda
Freemagz.id – Bandung menyimpan perjalanan panjang dalam perkembangan seni dan budaya Sunda. Dari alunan musik tradisional hingga Pop Sunda yang pernah merajai panggung hiburan nasional, kota ini menjadi ruang pertemuan antara warisan leluhur dan ekspresi budaya populer.
Semangat tersebut kembali dihidupkan melalui Lestari Tradisi: Bandung 1990, perayaan budaya yang digagas Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation di Bumi Sangkuriang, Bandung.
Menghadirkan pertunjukan seni, musik, tari, lomba kesenian, hingga bazar kuliner dan kerajinan lokal, acara ini mengajak masyarakat menikmati tradisi dalam suasana pesta rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bukan sekadar mengenang masa lalu, perhelatan ini juga menjadi ruang bagi seniman dan sanggar lokal untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada generasi yang lebih muda.
Gerakan Lestari Tradisi bermula dari inisiatif Titimangsa melalui pertunjukan daring Taksu Ubud di Bali pada masa pandemi. Pada 2023, gerakan ini berlanjut di Jawa Barat melalui Lestari Tradisi: Sukabumi 1980.
Tahun ini, Bandung dipilih sebagai panggung berikutnya untuk merayakan perjalanan seni tradisi sekaligus mengingat kembali dinamika budaya populer pada era 1990-an.
Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, mengatakan pelestarian budaya perlu menghadirkan ruang partisipasi agar masyarakat tidak hanya mengenal tradisi, tetapi juga dapat menikmatinya secara langsung.
“Menjaga budaya tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga memberi ruang agar masyarakat bisa mengenal, menikmati, dan menjadi bagian darinya,” ujar Renitasari. Ia berharap kegiatan ini dapat mendekatkan masyarakat dengan akar budaya sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap keberagaman Indonesia.

Bagi Happy Salma, pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi, keberlangsungan budaya tidak semestinya ditentukan oleh popularitas semata. “Kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana,” ungkapnya.
Semangat tersebut diterjemahkan melalui rangkaian pertunjukan yang melibatkan sejumlah nama dalam dunia seni Sunda. Doel Sumbang, Nining Meida, Dewi Gita, Dira Sugandi, Candil, Yukie Pas Band, serta Saung Angklung Udjo turut meramaikan panggung. Pertunjukan Jaipongan, tari tradisional, kolaborasi musik, dan lomba kesenian menjadi bagian dari agenda malam.
Pengunjung juga dapat menikmati kuliner khas seperti kupat tahu, surabi, mi kocok, cuanki, dan es campur, serta menjelajahi produk kerajinan lokal. Dengan demikian, tradisi hadir bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga melalui cita rasa, karya, dan interaksi masyarakat.

Upaya pelestarian ini turut diperluas lewat serial dokumenter Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya), produksi Puri Aksara bersama Happy Salma dan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation.
Mengangkat para perajin tenun Futus, pembuat perhiasan tradisional, dan pelaku musik tradisi di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, serial tiga episode tersebut dijadwalkan tayang di kanal YouTube Indonesia Kaya mulai 19 Oktober.
Bagi Happy, tradisi merupakan pengingat akan identitas dan asal-usul masyarakat. Melalui panggung pertunjukan maupun dokumentasi audiovisual, Lestari Tradisi berupaya menjaga warisan budaya tetap dikenal dan memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

