S-26 Soroti Pentingnya Nutrisi dan Stimulasi dalam Mendukung Anak Future-Ready
Freemagzz.id – Kehadiran kecerdasan buatan (AI), derasnya arus informasi, hingga beragam cara baru untuk belajar membuat kemampuan beradaptasi menjadi bekal yang semakin penting bagi generasi Alfa dan Beta.
Bagi orang tua, tantangannya bukan sekadar memastikan anak mengetahui banyak hal, melainkan membantu membangun fondasi agar mereka mampu terus belajar ketika menghadapi sesuatu yang baru. Di sinilah perkembangan otak, nutrisi, dan stimulasi menjadi bagian yang saling melengkapi.

Salah satu proses penting dalam perkembangan otak adalah mielinasi, yakni pembentukan lapisan mielin yang membantu penghantaran sinyal saraf berlangsung lebih efisien. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kaitan antara nutrisi pada masa awal kehidupan, proses mielinasi, dan perkembangan otak.
Sebuah uji klinis yang melibatkan 81 bayi cukup bulan, misalnya, menemukan perbedaan perkembangan mielin pada kelompok yang mendapat formulasi nutrisi tertentu dibanding kelompok kontrol.
Topik tersebut menjadi salah satu sorotan dalam “S-26 Exceptional Day”, rangkaian kegiatan Wyeth Nutrition S-26 yang berlangsung di enam kota dan ditutup melalui Momfluencers Gathering di Buumi Playscape Pacific Place, Jakarta.
“S-26 memahami keinginan para Mams untuk memastikan si Kecil dapat belajar, menyerap informasi secara optimal, serta berkembang sesuai potensinya seiring dengan pergerakan dunia yang semakin cepat,” ujar Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26.

Menurut Vera, pendekatan berbasis sains menjadi bagian dari pengembangan S-26, termasuk melalui riset perkembangan otak yang telah dilakukan bersama sejumlah institusi akademik. Salah satu penelitian yang dirujuk adalah studi kolaboratif Nestlé Research, Brown University, dan Hasbro Children’s Hospital mengenai hubungan formulasi nutrisi dengan mielinasi dan perkembangan anak.
Pendekatan tersebut kemudian diterapkan pada S-26 Procal Gold Multilearn Connect, yang menurut informasi resmi produk mengandung Sphingomyelin, Fosfolipid, Alfa-Laktalbumin, AA dan DHA, serta Omega 3 dan 6.
dr. Herbowo A.F. Soetomenggolo, Sp.A, Subsp.Neuro(K), pakar Neurologi Anak dari Brawijaya Hospital Saharjo, menjelaskan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode penting dalam pembentukan dan penyempurnaan koneksi saraf.
“Proses ini berperan besar dalam menunjang kemampuan si Kecil untuk belajar, memproses informasi baru, dan mengembangkan berbagai kemampuan kognitifnya,” jelasnya. Ia menekankan bahwa dukungan nutrisi perlu berjalan bersama stimulasi melalui pengalaman belajar yang beragam.

Hal tersebut juga dirasakan Acha Sinaga, momfluencer, yang melihat pentingnya menghadirkan pengalaman baru bagi anak. “Gizi perlu berjalan beriringan dengan stimulasi Multi Learning, yaitu dengan memberikan beragam pengalaman dan kesempatan bagi anakku untuk mencoba serta mempelajari hal-hal baru,” ungkapnya.
Selain menghadirkan edukasi melalui 26 Dokter Spesialis Anak dan Psikolog Anak, program ini melibatkan 26 komunitas parenting serta menghadirkan kelas stimulasi di Jakarta, Bogor, Surabaya, Medan, Tangerang, dan Palembang. Ada pula S-26 Day Top Spender yang berlangsung secara nasional pada 26 Agustus–31 Oktober 2026.
Pada akhirnya, menjadi future-ready bukan tentang membuat anak mampu menguasai segala sesuatu sejak dini. Lebih jauh, ini tentang memberi mereka fondasi untuk terus ingin tahu, mencoba, belajar, dan beradaptasi—dengan nutrisi dan stimulasi sebagai bagian dari perjalanan tumbuh kembangnya.

