COTTONINK Archipelago Bawa Nuansa Pasar Tradisional ke Dunia Fashion Modern
Freemagz.id – Di tengah berkembangnya tren fesyen yang semakin global dan cepat berganti, ketertarikan terhadap akar budaya lokal justru semakin mendapat tempat di kalangan generasi muda. Fenomena ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak label mode Indonesia kembali mengeksplorasi kekayaan tekstil Nusantara sebagai sumber inspirasi yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Semangat tersebut tercermin dalam peluncuran koleksi terbaru COTTONINK Archipelago bertajuk Cita Senada. Koleksi ini menjadi penanda perjalanan panjang lini Archipelago yang selama lebih dari satu dekade konsisten mengangkat wastra Indonesia ke dalam busana kasual yang mudah dikenakan sehari-hari.

Untuk merayakan peluncurannya, COTTONINK Archipelago menghadirkan trunk show bertema Pasar Sukaria di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Mengambil inspirasi dari suasana pasar tradisional yang akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, acara ini dirancang sebagai ruang yang mempertemukan fesyen, budaya, dan pengalaman kolektif dalam satu narasi.
Alih-alih menghadirkan presentasi mode yang formal, pengunjung diajak menikmati berbagai elemen yang membangun suasana pasar secara lebih kontemporer. Pertunjukan tari tradisional, sajian kudapan khas Nusantara, hingga instalasi interaktif menjadi bagian dari pengalaman yang memperkuat pesan bahwa tradisi dapat hadir dalam bentuk yang segar dan dekat dengan keseharian.
Di balik koleksi Cita Senada, terdapat eksplorasi terhadap motif wajik yang banyak ditemukan pada tenun Jepara. Motif tersebut diterjemahkan melalui permainan teknik bordir dan weaving yang menjadi identitas desain Archipelago. Hasilnya adalah rangkaian busana yang terasa modern namun tetap menyimpan jejak budaya yang kuat.
Bagi Carline Darjanto, CEO sekaligus Creative Director COTTONINK, koleksi ini memiliki makna yang lebih personal dibandingkan koleksi-koleksi sebelumnya. “Koleksi ini terasa sangat personal karena seperti membawa kami kembali ke titik awal COTTONINK Archipelago dibangun. Senang sekali 14 tahun setelah koleksi tenun dan ikat pertama lahir, COTTONINK Archipelago tetap konsisten dalam merespons warisan tekstil Indonesia,” ujar Carline.

Ia menambahkan bahwa melalui koleksi ini, pihaknya berharap tenun Nusantara dapat semakin dekat dengan generasi baru yang mencari busana dengan nilai cerita dan identitas budaya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ria Sarwono, Brand and Marketing Director COTTONINK. “Tema Pasar Sukaria dipilih karena merepresentasikan esensi koleksi Archipelago yang penuh cerita dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi bisa terus hadir dalam konteks yang relevan dan modern,” katanya.
Terdiri dari 83 desain untuk perempuan, laki-laki, dan anak-anak, Cita Senada menghadirkan beragam pilihan mulai dari kebaya, kain lilit, kemeja, hingga luaran yang dirancang fleksibel untuk berbagai kesempatan.
Lewat koleksi ini, COTTONINK Archipelago tidak hanya menawarkan pakaian, tetapi juga sebuah ajakan untuk melihat kembali kekayaan wastra Indonesia sebagai bagian dari gaya hidup yang terus berkembang bersama zaman.

