Mirage Tampilkan Karya Sembilan Seniman, Angkat Isu Identitas hingga Kecemasan Era Digital
Freemagz.id – Bagi pencinta seni kontemporer, Jakarta kembali menghadirkan ruang baru untuk menikmati karya-karya yang mengajak publik merefleksikan berbagai persoalan kehidupan masa kini.
Bertajuk “Mirage”, pameran seni yang digelar di ARTOTEL Gelora Senayan menghadirkan beragam interpretasi mengenai cara manusia memandang realitas di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang terus berlangsung.

Pameran ini menjadi kolaborasi perdana ARTOTEL Gelora Senayan dengan J+ Art Awards 2026, sebuah inisiatif dari Connected Art Platform yang memberikan ruang bagi seniman untuk memperkenalkan gagasan dan praktik artistik mereka kepada khalayak yang lebih luas.
Sebanyak 10 karya dari sembilan seniman terpilih ditampilkan dalam pameran ini. Masing-masing menghadirkan sudut pandang yang berbeda, mulai dari persoalan identitas budaya, memori personal, relasi manusia dengan alam, hingga dinamika kehidupan masyarakat modern.
Adril Wak Yong melalui karya Patah Kemudi mengangkat pencarian identitas budaya Melayu di tengah perubahan zaman. Sementara itu, Agung Bule lewat KUNING #82 mengeksplorasi proses kreatif yang intuitif sebagai refleksi atas ketidakpastian dan pengalaman batin.

Tema hubungan manusia dengan lingkungan hadir dalam karya Sound of Nature (Sea Series) milik Camelia Mitasari Hasibuan yang memaknai laut sebagai ruang yang menyimpan jejak kehidupan lintas generasi. Di sisi lain, Minji Sani melalui The Pseudo-Stage: A Shelter of Memory menyoroti rapuhnya ruang domestik yang dipengaruhi modernisasi dan tekanan sosial-politik.
Refleksi personal juga menjadi benang merah dalam karya Mivetboi bertajuk MONOLOG RUANG TENGAH. dan Kembali Senja, yang menggambarkan perjalanan emosi sekaligus proses mengenali diri.
Sementara itu, Mochamad Rizky Aditya melalui Ecology without Nature mengajak pengunjung mempertanyakan kembali cara manusia memahami relasinya dengan alam. Isu memori, pengalaman perempuan, hingga kekerasan diangkat Patricia Geraldine Thebez dalam The Weight of What Remains.

Raka Hadi Permadi melalui Alok-Aruh merefleksikan memudarnya budaya saling menyapa di tengah kehidupan modern, sedangkan Yung Finando lewat Urgent menghadirkan lanskap sureal yang menggambarkan kecemasan manusia akibat derasnya arus informasi.
Director of Sales & Marketing ARTOTEL Gelora Senayan – Jakarta, Christo Gultom, mengatakan kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap seni kontemporer sekaligus menjadi ruang bertemunya publik dengan para seniman.

“Melalui pameran MIRAGE, kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perjalanan J+ Art Awards 2026 dan turut memperkenalkan karya-karya para seniman terpilih kepada publik. Kami berharap pameran ini dapat menjadi ruang yang mendorong apresiasi, dialog, dan keterlibatan yang lebih dekat dengan seni kontemporer,” ujar Christo.
Pameran “Mirage” dapat dikunjungi hingga 24 Oktober 2026 di ARTOTEL ARTSPACE, Lobby Level, ARTOTEL Gelora Senayan, Jakarta. Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dinikmati tanpa dipungut biaya, sehingga menjadi pilihan menarik bagi masyarakat yang ingin menikmati seni kontemporer dalam suasana yang lebih dekat dan inklusif.

