Art & CultureNews

Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Jadi Senjata Baru Kalimantan Timur Gaet Wisatawan

Freemagz.id – Kepulauan Derawan dan Maratua selama ini identik dengan laut biru, penyu hijau, hingga keindahan bawah laut kelas dunia. Namun, kawasan wisata unggulan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, itu kini tengah memperkuat identitasnya melalui jalur budaya. 

Pengembangan Batik Derawan-Maratua dan revitalisasi Tari Dalling menjadi langkah baru untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya mengandalkan panorama alam, tetapi juga kekayaan tradisi lokal.

Inisiatif tersebut diperkenalkan melalui program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya” yang digagas Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) dengan dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, menilai kekuatan Derawan dan Maratua tidak berhenti pada pesona alamnya. Menurutnya, budaya masyarakat pesisir memiliki potensi besar untuk menjadi identitas yang mampu meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia.

“Ketika ombak diterjemahkan menjadi motif, penyu menjadi simbol kehidupan, dan alam diwujudkan dalam tarian, sesungguhnya masyarakat sedang memindahkan ingatan alam menjadi ingatan budaya,” ujar Bambang saat peluncuran program di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui konservasi, tetapi juga harus mampu menjadi ruang inovasi sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi kreatif. “Budaya yang kuat bukan budaya yang hanya disimpan, tetapi budaya yang terus hidup, dipelajari, digunakan, dan menginspirasi,” katanya.

Sebagai bagian dari program tersebut, IPBN menghadirkan delapan motif Batik Derawan-Maratua yang terinspirasi dari kekayaan bahari dan kehidupan masyarakat pesisir Berau. Seluruh motif telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk memberikan perlindungan sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.

Pada tahap awal, tiga motif diperkenalkan kepada publik, yakni Bokko’ Lumangi yang mengambil inspirasi dari penyu Derawan, Buung Embal Naban yang mengangkat keunikan ubur-ubur tak menyengat di Danau Kakaban, serta Goyak yang menggambarkan dinamika ombak dan laut tropis.

Project Leader Pengembangan Batik dan Tari Dalling Derawan-Maratua, Nazam, mengatakan pengenalan motif-motif tersebut akan diperkuat melalui berbagai platform digital agar masyarakat memahami makna di balik setiap karya. “Tahapan berikutnya difokuskan pada pengenalan melalui media sosial agar masyarakat memahami filosofi di balik setiap motif, bukan hanya mengenal batiknya,” ujar Nazam.

Tidak hanya batik, Tari Dalling yang merupakan warisan budaya Suku Bajau juga mendapat sentuhan baru melalui penyempurnaan koreografi, aransemen musik, tata busana, hingga strategi promosi digital. Salah satu langkah yang disiapkan adalah kampanye Dalling TikTok Trends untuk memperkenalkan tarian tradisional tersebut kepada generasi muda tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat.

Dewan Pembina IPBN, Sapta Nirwandar, menilai perpaduan antara kekayaan alam dan budaya menjadi modal penting dalam membangun destinasi wisata yang berkelanjutan. “Derawan memiliki modal luar biasa.

Alamnya kelas dunia, ditambah budaya masyarakat Bajau, tarian tradisional, dan kini motif batik khas yang menjadi identitas baru. Kombinasi ini menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak destinasi wisata lain,” kata Sapta.

Ke depan, seluruh koleksi Batik Derawan-Maratua dijadwalkan tampil dalam ajang Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2026. Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya Kalimantan Timur, tetapi juga membuka peluang baru bagi ekonomi kreatif dan memperluas promosi pariwisata Indonesia di panggung internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *