Travel

Museum Angkut Batu dan Kisah Panjang Kendaraan yang Melintasi Zaman

Freemagz.id – Apa jadinya jika sejarah perkembangan transportasi tidak hanya dibaca dari buku, tetapi bisa dilihat dari dekat? Di Museum Angkut, Kota Batu, Jawa Timur, jawabannya hadir dalam bentuk lebih dari 300 koleksi kendaraan darat, laut, dan udara yang membawa pengunjung melintasi berbagai zaman dan negara.

Berdiri sejak 2014, Museum Angkut menempati kawasan hampir empat hektare dan mengemas koleksinya dalam sejumlah zona tematik. Mulai dari Zona Edukasi, Pecinan, Inggris, Gangster, Perancis hingga Hollywood, setiap area dirancang dengan atmosfer berbeda agar kendaraan tidak tampil sebagai benda mati semata.

Guest Relations Officer Museum Angkut, Vicky Andrian, mengatakan koleksi tersebut berasal dari berbagai negara dengan karakter kendaraan yang disesuaikan dengan zona penempatannya. “Di Museum Angkut ada berbagai zona tematik. Di museum sendiri kita memiliki lebih dari 300 koleksi kendaraan darat, laut, dan udara,” kata Vicky.

Koleksinya memiliki rentang usia yang mencolok. Ada kendaraan Amerika keluaran 1910 di satu sisi, sementara Toyota Yaris Cabriolet buatan Indonesia mewakili kendaraan yang jauh lebih modern. Mayoritas koleksi berasal dari Amerika Serikat, sedangkan kendaraan asal Inggris dan Perancis disebut relatif lebih sulit diperoleh.

Menariknya, usia tidak selalu berarti kendaraan harus tampil sempurna. Sekitar 80–90 persen koleksi disebut masih berfungsi dengan baik, sementara karakter orisinal, termasuk bagian yang berkarat, tetap dipertahankan.

Untuk unit replika, museum memberikan keterangan khusus agar pengunjung dapat membedakannya dari koleksi asli. “Mostly di sini adalah original. Sekitar 80 sampai 90 persen masih berfungsi dengan baik,” ujar Vicky.

Museum Angkut juga memilih pendekatan edutainment, memadukan edukasi dengan hiburan. Pertunjukan drifting menjadi salah satu atraksi yang membuat pengalaman museum terasa lebih dinamis. Ada pula parade kendaraan serta pertunjukan malam pada jadwal tertentu. Menurut pengelola, pendekatan tersebut dibuat agar pembelajaran mengenai transportasi tidak terasa kaku.

Di antara koleksi yang menarik perhatian, terdapat kendaraan militer seperti Panser Anoa, Panser Saladin dan Panser Ace, serta sejumlah helikopter. Koleksi terbaru yang disebut hadir di museum adalah Ford GT40 Mk I, mobil yang terkait dengan sejarah kemenangan Ford di ajang Le Mans.

Namun, mempertahankan kendaraan berusia puluhan bahkan lebih dari satu abad tentu bukan pekerjaan sederhana. Perawatan dilakukan secara bergilir, sementara sejumlah suku cadang harus dipesan dan menunggu hingga berbulan-bulan. “Setiap tahunnya kita ada wahana baru, show baru, dan koleksi baru,” ujar Fiki Andrian, Guest Relation Officer Museum Angkut.

Antusiasme pengunjung pun datang dari berbagai kalangan. Wisatawan domestik, mancanegara, keluarga, hingga komunitas otomotif menjadikan museum ini sebagai tujuan wisata. 

Dengan cara tersebut, Museum Angkut tidak sekadar menyimpan kendaraan dari masa lalu, tetapi menghadirkan kembali cerita tentang bagaimana manusia bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan bagaimana teknologi mengubah perjalanan itu dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *