Dari Sawah ke Galeri: Kisah Putu PW Winata Melukis Pagi di Jatiluwih
Freemagz.id – Bagi Putu PW Winata, alam bukan cuma latar belakang, tapi sumber energi sekaligus suara yang hidup. Dua tahun terakhir, pelukis abstrak asal Denpasar ini menjadikan Desa Jatiluwih di Tabanan sebagai ruang belajar sekaligus ruang berkarya.
Ia berdiskusi dengan Perbekel, Jro Pekaseh/Kelian Subak pemimpin sistem pengairan warisan leluhur yang telah berlangsung turun-temurun serta berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Dari sana, Putu menemukan banyak cerita menarik, mulai dari empat belas ritual sakral yang mengiringi musim tanam, sampai tantangan status Jatiluwih sebagai warisan dunia UNESCO yang kini berhadapan dengan modernisasi.

Hasilnya cukup luar biasa: lebih dari 70 karya di kanvas dan hampir 50 karya di kertas daur ulang. Karya-karya itu sudah keliling pameran, bukan hanya di Bali, Jogja, dan Jakarta, tapi juga sampai ke Thailand dan New York.
Tapi Putu merasa masih ada yang kurang. Menangkap keindahan Jatiluwih tak cukup hanya lewat kanvas. Maka lahirlah sebuah karya lintas medium: video dokumentasi saat ia melukis langsung di tengah hamparan sawah Jatiluwih waktu matahari terbit. Untuk memperkuat suasana, ia menggandeng komposer Ary W Palawara yang menambahkan sentuhan paduan suara magis.
Pada event akbar seni tahunan Art Jakarta, 3-5 Oktober 2025 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, D Gallerie menampilkan Putu PW Winata yang secara khusus mengungkap seluruh pengalaman perjalannannya di ‘pematang-pematang’ terasering Jatiluwih dalam karya terbarunya; sederetan karya di atas kanvas dan sebuah video dokumentasi “Melukis Suara Alam Pagi Jatiluwih”.

