Sampoerna University Ungkap Dampak Nyata Media Sosial terhadap Mental Anak Muda
Freemagz.id – Di era ketika notifikasi tak pernah benar-benar berhenti, perhatian manusia menjadi aset yang terus diperebutkan. Fenomena ini menjadi sorotan dalam diskusi publik yang digelar Sampoerna University bertajuk “The Battle for Your Attention, Psychology in the Age of Social Media and AI”.
Diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-13, forum ini mengupas bagaimana media sosial dan kecerdasan buatan membentuk cara kita berpikir, merasa, hingga berinteraksi.
Mengacu pada laporan DataReportal, Indonesia menempati posisi sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia, dengan lebih dari 143 juta pengguna aktif media sosial. Di balik angka tersebut, tersimpan tantangan besar mulai dari kecanduan digital hingga meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi, khususnya di kalangan anak dan remaja.
Psikolog konsultan asal Australia, Dr. Belinda S.L. Khong, menjelaskan bahwa paparan gawai sejak usia dini dapat membentuk pola dopamin di otak yang mendorong kebutuhan akan stimulasi instan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat individu semakin sulit merasa puas dari aktivitas sehari-hari yang sederhana. “Otak terus mencari rangsangan lebih tinggi, sehingga muncul kecenderungan adiktif yang tidak disadari,” ungkapnya.
Tak hanya media sosial, perkembangan AI juga menghadirkan dinamika baru dalam layanan kesehatan mental. Konsep AI therapy konsultasi berbasis kecerdasan buatan kian diminati, terutama oleh generasi muda.

Data dari World Economic Forum menunjukkan sekitar 36% Gen Z dan milenial tertarik menggunakan AI sebagai alternatif terapi. Di Indonesia, tren ini juga mulai terlihat, didorong oleh keterbatasan akses terhadap tenaga profesional.
Berdasarkan data Ikatan Psikologi Klinis, jumlah psikolog klinis di Indonesia masih relatif terbatas dengan distribusi yang belum merata. Kondisi ini membuat teknologi menjadi solusi praktis, meski bukan tanpa batas. Dr. Khong menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan interaksi manusia yang menjadi inti dari proses terapi.
Presiden Sampoerna University, Dr. Marshall Schott, menegaskan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi lanskap ini. Menurutnya, pendidikan harus mampu melahirkan individu yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga tetap mengedepankan empati dan koneksi antarmanusia.
Di tengah kompleksitas ini, peran orang tua menjadi semakin penting. Membatasi screen time, mengawasi konten, hingga menciptakan momen tanpa gawai menjadi langkah sederhana yang berdampak besar.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental di era digital bukan soal menjauh dari teknologi, melainkan bagaimana menggunakannya secara bijak tanpa kehilangan esensi sebagai manusia.

