Pentingnya Ekosistem Pendukung dalam Mendorong Potensi Anak
Freemagz.id – Prestasi anak di sekolah tidak selalu lahir dari proses belajar yang berlangsung di dalam kelas. Di balik pencapaian tersebut, ada kombinasi antara asupan gizi, stimulasi yang tepat, pengalaman belajar yang menyenangkan, serta dukungan dari orang tua dan lingkungan sekolah.
Gambaran itu terlihat dari keberhasilan tim SD Fransiskus 2 Pahoman Bandar Lampung yang meraih gelar Juara Nasional DANCOW Indonesia Cerdas Season 2.
Tim yang beranggotakan Nicholas Onggarahardja, Jeselyn Charissa Abuyanin, dan Bagas Arka Saksono berhasil menjadi yang terbaik setelah kompetisi menjaring 192.000 siswa dari 2.168 sekolah di 40 kota dan 15 provinsi.

Keberhasilan tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Lampung. Bagi pemerintah daerah, pencapaian itu sekaligus memperlihatkan pentingnya ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Wali Kota Bandar Lampung yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Hj. Eka Afriana, S.Pd., mengatakan prestasi tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak dari daerah memiliki kesempatan untuk berkembang dan berprestasi di tingkat nasional. Ia juga mengapresiasi peran guru dan orang tua yang memberikan pendampingan selama proses belajar.
Dari sisi Nestlé DANCOW, pendekatan tersebut menjadi bagian dari penyelenggaraan DANCOW Indonesia Cerdas sejak 2025. Yohana Yose Gunawan, Category Marketing Manager DANCOW, menjelaskan bahwa kompetisi ini dirancang selaras dengan kurikulum nasional melalui pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
“Kompetisi ini merupakan salah satu wujud komitmen Nestlé DANCOW untuk senantiasa mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia melalui pemberian gizi dan stimulus belajar yang tepat,” ujar Yohana.

Bagi sekolah, proses menuju kemenangan justru menjadi bagian yang tidak kalah penting. Sr. M. Paulis FSGM, M.Pd., Kepala Sekolah SD Fransiskus 2 Pahoman Bandar Lampung, melihat anak-anak belajar membangun disiplin, kerja sama, keberanian menghadapi tantangan, sekaligus mempertahankan karakter positif.
Bagas pun merasakan hal serupa. Menurutnya, kompetisi bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mengajarkan pentingnya bekerja sama dan percaya diri.
Sementara itu, Helnita, orang tua Jeselyn, menilai pengalaman tersebut menjadi kenangan berharga bagi keluarga. Antusiasme anak selama mengikuti kompetisi, menurutnya, menjadi bagian dari proses belajar yang memberikan pengalaman baru di luar rutinitas sekolah.
Pada akhirnya, tumbuh kembang anak membutuhkan lebih dari sekadar pencapaian akademik. Gizi, stimulasi, pengalaman belajar, serta dukungan orang-orang terdekat dapat menjadi bagian dari perjalanan anak dalam mengenali kemampuan dan membangun kepercayaan dirinya.

