Nostalgia Era 80-an Kembali Hidup, “Melodi Cinta” Padukan Musik, Teater, dan Budaya Pop
Freemagz.id – Nostalgia musik dan budaya pop era 1980-an mendapat wajah baru lewat “Melodi Cinta”, konser musikal garapan Broadwayang Production yang digelar pada 9 Agustus 2026. Bukan sekadar konser, pertunjukan ini memadukan musik, tari, dialog, dan adegan teatrikal untuk membawa lagu-lagu lintas generasi ke dalam format bergaya Broadway dengan sentuhan khas Indonesia.

Ikang Fauzi menjadi salah satu nama yang mencuri perhatian dalam pertunjukan tersebut. Bersama Ensambke Broadwayang dan sejumlah performer muda, ia membawakan lagu-lagu yang lekat dengan memori budaya pop Indonesia, termasuk “Catatan Si Boy”, “Preman”, “Salam Terakhir”, hingga “Rumah Kita”.
Rangkaian lagu tersebut tidak berdiri sendiri. Koreografi, karakter, serta adegan teatrikal disusun untuk memberikan konteks pada setiap lagu, membuat penonton seolah diajak masuk ke atmosfer kehidupan dan budaya populer pada masanya.
“Buat saya, ini sesuatu yang berbeda. Ini bukan hanya pertunjukan musik biasa, tetapi sebuah pertunjukan yang menghadirkan sudut pandang generasi muda terhadap gaya pertunjukan dan kehidupan di era tersebut,” ujar Ikang Fauzi.

Menurutnya, pendekatan yang digunakan Broadwayang Production memperlihatkan bagaimana generasi muda dapat membaca kembali budaya pop masa lalu dengan perspektif mereka sendiri. Antusiasme penonton pun menjadi apresiasi tersendiri bagi Ikang. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Buat saya, ramainya penonton malam ini adalah hadiah tersendiri,” tambahnya.
Di balik konsep tersebut, Project Manager sekaligus salah satu pendiri Broadwayang Production, Mikail Edwin Rizki (Mika), menyebut “Melodi Cinta” sebagai eksperimen untuk memperluas format pertunjukan mereka. Jika sebelumnya lebih banyak menggarap teater musikal, kali ini Broadwayang mencoba menghadirkan atmosfer konser yang lebih santai dan interaktif.
“Kami mencoba mengambil konsep pertunjukan Broadway, tetapi dikemas dengan nuansa yang sangat Indonesia. Biasanya kami membuat pertunjukan dalam bentuk teater musikal. Namun kali ini kami ingin mencoba sesuatu yang baru, yaitu konser musikal,” jelas Mika.
Format ballroom dipilih untuk mendekatkan penonton dengan panggung. Sekitar lima segmen pertunjukan kemudian dibangun dengan karakter visual berbeda, mulai dari atmosfer disko 1980-an, kehidupan remaja, anak jalanan, hingga dunia fantasi.

Menariknya, sebagian besar proses kreatif juga digerakkan oleh generasi muda. Mika menangani konsep, Rendy Foster Silitonga menggarap tata musik, Imanuel Christian Galih menangani koreografi, sementara Dhira Ramadhani S Kinanty menggarap kostum.
Bagi Mika, pendekatan tersebut menjadi cara untuk membuat musik lawas tetap relevan. “Kami ingin menciptakan ruang ekspresi yang positif dengan memasukkan nilai edukasi, sosial, dan kultural melalui pendekatan musik-musik lawas yang dikemas dengan cara yang lebih modern,” katanya.
“Melodi Cinta” menjadi pertunjukan ke-9 Broadwayang Production sejak mulai berkarya sekitar 2024. Setelah eksperimen ini, mereka tengah menyiapkan pertunjukan dengan skala lebih besar pada September mendatang. Mika mengakui format tersebut masih terus dikembangkan melalui proses trial and error.
“Kami menyadari bahwa pertunjukan kali ini mungkin belum 100 persen sempurna. Tetapi dari sini kami berharap bisa terus melakukan inovasi dan menghasilkan karya-karya baru,” ujarnya.
Lewat “Melodi Cinta”, Broadwayang Production menunjukkan bahwa nostalgia tidak harus berhenti sebagai kenangan. Ketika musik lawas bertemu kreativitas generasi baru, masa lalu justru dapat menemukan panggungnya kembali di hadapan penonton.

