News

Aksi Iklim Berbasis Komunitas: Peran Perempuan Kian Strategis di Indonesia

Freemagz.id – Di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan di berbagai wilayah Indonesia, aksi iklim berbasis komunitas kian mendapat perhatian. Pendekatan ini dinilai relevan karena perubahan perilaku sehari-hari di tingkat rumah tangga dan komunitas memiliki kontribusi langsung terhadap upaya pelestarian lingkungan.

Momentum ini beriringan dengan peringatan International Women’s Day setiap 8 Maret, yang menyoroti peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk isu keberlanjutan. Di Indonesia, sejumlah inisiatif mulai mengintegrasikan pemberdayaan perempuan dengan aksi iklim sebagai strategi jangka panjang.

Salah satunya dilakukan oleh Godrej Consumer Products Indonesia (GCPI) melalui program bertajuk “Rooted in Purpose: Women Shaping Climate Outcomes”. Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas perempuan di tingkat komunitas agar mampu menjadi penggerak praktik ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Pendekatan tersebut selaras dengan temuan Survei Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA, 2026) yang mencatat 82 persen Generasi Z di Indonesia menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, sementara 85 persen responden menempatkan perlindungan alam sebagai prioritas nasional. Data ini menggambarkan meningkatnya kesadaran publik, khususnya generasi muda, terhadap isu perubahan iklim.

Sebagai bagian dari implementasi program, GCPI berkolaborasi dengan pegiat lingkungan Rosita Istiawan di kawasan Mega Mendung, Jawa Barat. Di wilayah tersebut, Rosita mengembangkan lebih dari 30 hektare hutan organik berbasis pemberdayaan masyarakat. Dari pengembangan itu terbentuk 20 kelompok tani dengan anggota 20 hingga 30 orang per kelompok, yang sebagian besar merupakan perempuan.

Model pemberdayaan yang dijalankan menitikberatkan pada praktik sederhana seperti penanaman pohon, perawatan lahan, serta edukasi lingkungan di sekitar tempat tinggal. Pendekatan ini dirancang agar mudah direplikasi dan berkelanjutan, sekaligus mendorong dampak sosial-ekonomi melalui keterlibatan kelompok tani perempuan.

Perusahaan menyatakan komitmennya untuk berperan sebagai mitra jangka panjang dalam memperkuat kapasitas komunitas, terutama di sekitar area operasionalnya di Gunung Putri, Jawa Barat. Secara strategis, inisiatif ini juga dikaitkan dengan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 5 tentang kesetaraan gender dan SDG 13 mengenai aksi iklim.

Integrasi antara pemberdayaan perempuan dan aksi lingkungan dinilai menjadi pendekatan yang semakin relevan dalam konteks pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi berbasis komunitas diharapkan dapat memperluas ruang hijau sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan lingkungan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *