Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Literasi Keuangan Muncul sebagai Pembeda Utama
Freemagz.id – Kenaikan biaya hidup masih menjadi tantangan terbesar bagi banyak keluarga Indonesia. Di tengah harga kebutuhan yang terus bergerak naik dan kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kemampuan rumah tangga untuk mempertahankan stabilitas keuangan menjadi semakin penting.
Temuan tersebut tergambar dalam Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia. Survei yang melibatkan 1.000 responden dewasa di berbagai wilayah Indonesia itu menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh masyarakat merasakan tekanan langsung dari meningkatnya biaya hidup.
Dampaknya tidak hanya terasa pada pengeluaran sehari-hari, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat merencanakan masa depan. Hampir separuh responden mengaku belum memiliki perencanaan keuangan jangka panjang atau hanya membuat rencana hingga satu tahun ke depan.
Kondisi ini mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk lebih fokus memenuhi kebutuhan saat ini dibanding mempersiapkan tujuan finansial jangka panjang.
Meski terdapat peningkatan jumlah individu yang tergolong sangat tangguh secara finansial, ketahanan keuangan masyarakat secara umum masih belum merata. Hanya sebagian kecil responden yang merasa benar-benar aman secara finansial, sementara banyak rumah tangga masih memiliki cadangan dana yang terbatas ketika menghadapi risiko kehilangan penghasilan.
Menurut Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia, kesiapan finansial menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. “Temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial,” ujar Albertus.
Studi tersebut juga menyoroti pentingnya literasi keuangan. Responden yang memiliki pemahaman keuangan yang baik terbukti lebih percaya diri dalam mengambil keputusan finansial, lebih siap menghadapi situasi darurat, serta lebih optimistis terhadap kondisi keuangan mereka di masa depan.
Menariknya, perkembangan teknologi turut mengubah cara masyarakat memperoleh informasi keuangan. Sebanyak 68 persen responden mengaku telah menggunakan teknologi generative artificial intelligence (AI) untuk mencari panduan dan informasi terkait pengelolaan keuangan.
Angka ini menunjukkan semakin besarnya peran teknologi digital dalam mendukung pengambilan keputusan finansial.
Meskipun demikian, kehadiran AI belum menggantikan peran penasihat keuangan profesional. Teknologi dinilai efektif untuk membantu masyarakat memahami informasi dengan lebih cepat, sementara pendampingan ahli tetap dibutuhkan dalam pengambilan keputusan yang lebih kompleks dan berdampak jangka panjang.
“Teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan literasi keuangan, namun tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli atau penasihat keuangan yang bertanggung jawab. Penguatan fondasi ini tetap penting agar individu dapat mengevaluasi informasi secara kritis dan mengambil keputusan yang tepat,” kata Albertus.
Temuan ini memperlihatkan bahwa di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, kombinasi antara literasi keuangan yang kuat, perencanaan jangka panjang, serta pemanfaatan teknologi secara bijak menjadi fondasi utama untuk membangun ketahanan finansial keluarga Indonesia.

