Travel

Menjelajah Sejarah Musik Dunia di Kota Batu, dari Instrumen Klasik hingga K-Pop

Freemagz.id – Museum biasanya identik dengan etalase, benda bersejarah, dan pengunjung yang berjalan perlahan sambil membaca keterangan koleksi. Namun, pengalaman tersebut terasa berbeda ketika memasuki Museum Musik Dunia di Jatim Park 3, Kota Batu, Jawa Timur. Di sini, musik tidak hanya dipajang, tetapi juga dapat didengar, dimainkan, dan dipelajari secara langsung.

Konsep tersebut membuat Museum Musik Dunia menjadi salah satu ruang wisata edukasi yang menarik bagi keluarga dan pelajar. Koleksinya mencakup instrumen musik dari Indonesia dan berbagai negara, memorabilia musisi, perangkat pemutar musik, hingga instrumen klasik. Situs resmi Museum Musik Dunia menyebut museum ini terdiri atas tiga lantai dengan karakter koleksi yang berbeda.

Salah satu koleksi yang langsung mencuri perhatian adalah drum set milik Terry Bozzio, drummer asal Amerika Serikat. Berdasarkan informasi resmi museum, koleksi tersebut disebut sebagai satu-satunya di Indonesia dan kedua di Asia. Pengunjung juga dapat mencoba sejumlah instrumen melalui area interaktif, termasuk drum dan gitar.

Pendekatan interaktif menjadi bagian penting dari pengalaman di museum ini. Edukator Museum Musik Dunia Jatim Park 3, Sony Rosandi, menjelaskan bahwa konsep tersebut memang dirancang agar museum lebih dekat dengan masyarakat. “Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat umum,” kata Sony dalam rangkaian Media Trip & Experience Forwaparekraf JTP Group pada September 2026.

Di lantai berikutnya, perjalanan beralih dari instrumen menuju cerita tentang genre dan tokoh musik. Koleksi yang berkaitan dengan The Beatles, Elvis Presley, dan Freddie Mercury hadir berdampingan dengan figur lilin V BTS dan PSY di zona K-Pop. Ada pula zona Dangdut dengan fasilitas karaoke serta Vinyl Experience yang membawa pengunjung kembali pada era ketika musik dinikmati melalui turntable dan piringan hitam.

Sementara itu, lantai tiga membawa pengunjung menyusuri sejarah instrumen klasik dan teknologi audio. Koleksi Polyphone asal Prancis dari 1857 menjadi salah satu benda bersejarah yang menarik perhatian. Sejumlah piano juga masih dapat dimainkan, sementara radio-radio vintage dari berbagai dekade memperlihatkan perubahan cara manusia menikmati musik.

Menariknya, cerita museum tidak berhenti pada musik dunia. Spot Indonesia menghadirkan rindik, gamelan, sapek, kecapi, seruling, hingga gula gending.

Manajer Operasional Museum Musik Dunia, Mulyadi, mengatakan pendekatan tersebut ditujukan untuk memperkenalkan kekayaan musik Nusantara secara lebih sederhana. “Kami ingin koleksi alat musik Indonesia di sini dapat menjadi pengenalan yang sederhana bagi pengunjung terhadap kekayaan budaya Nusantara,” ujarnya.

Dengan perpaduan koleksi, sejarah, dan pengalaman langsung, Museum Musik Dunia menawarkan cara lain menikmati wisata di Kota Batu: bukan hanya datang untuk melihat, tetapi pulang dengan cerita tentang bagaimana musik berkembang dari masa ke masa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *