Health & BeautyLifestyle

Di Balik Transformasi Vicky Shu, Ada Pendekatan Holistik dari Halofit by Halodoc

Freemagz.id – Banyak perempuan menghadapi tantangan besar untuk kembali menjaga kebugaran tubuh setelah melahirkan. Di tengah tuntutan mengurus keluarga, pekerjaan, hingga tekanan sosial di media digital, proses penurunan berat badan sering kali berubah menjadi perjuangan fisik sekaligus mental. Situasi ini juga dialami penyanyi dan publik figur Vicky Shu setelah melahirkan anak keduanya.

Alih-alih mendapat dukungan, Vicky sempat menjadi sasaran komentar body shaming dan mom shaming di media sosial akibat perubahan bentuk tubuhnya pascapersalinan. Transformasi tubuhnya yang cukup signifikan bahkan memunculkan spekulasi publik bahwa dirinya menjalani operasi potong lambung.

Namun, Vicky menegaskan bahwa perubahan tersebut diperoleh melalui program manajemen berat badan berbasis medis bersama Halofit by Halodoc yang dijalaninya selama delapan minggu. Selain pendampingan dokter, ia juga mulai membangun kebiasaan hidup sehat seperti rutin berjalan kaki setiap hari dan memperbaiki pola makan.

“Aku memilih program Halofit karena ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mental, bukan semata-mata menurunkan berat badan. Aku mendapatkan pengawasan dokter, meal plan sesuai kebutuhan tubuh, sampai terapi GLP-1 yang membantu mengontrol nafsu makan. Program ini juga fleksibel karena bisa diakses online, jadi tetap cocok di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga,” ujar Vicky Shu.

Menurutnya, perjalanan transformasi tersebut bukan tentang memenuhi standar kecantikan orang lain, melainkan membangun tubuh yang lebih sehat dan berdampak pada kondisi mental yang lebih baik.

Fenomena yang dialami Vicky mencerminkan persoalan obesitas yang kini semakin kompleks di Indonesia. Gaya hidup serba cepat, stres, minim aktivitas fisik, hingga perubahan hormon membuat banyak orang kesulitan menjaga berat badan ideal. Sayangnya, obesitas masih sering dipandang sebatas kurang disiplin menjalani pola hidup sehat.

Padahal, berdasarkan data program Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025, satu dari tiga masyarakat Indonesia mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut yang berisiko memicu penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi.

VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim mengatakan, penanganan obesitas membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan personal.

“Bagi Halodoc, mengatasi obesitas bukan sekadar menurunkan angka di timbangan, tetapi membantu masyarakat membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan. Karena itu, melalui Halofit kami menghadirkan pendekatan berbasis edukasi, pendampingan dokter dan ahli gizi, teknologi, serta terapi medis berbasis bukti ilmiah,” jelas Ignasius.

Melalui aplikasi Halodoc, pengguna dapat mengakses program transformasi berat badan selama 30 hari yang mencakup konsultasi dokter, meal plan personal, pendampingan ahli gizi, hingga terapi medis sesuai indikasi.

Salah satu terapi yang digunakan adalah GLP-1, yakni terapi yang bekerja meniru hormon alami usus untuk membantu mengontrol rasa lapar dan kadar gula darah.

Pendekatan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menjaga berat badan ideal seharusnya tidak dilakukan secara instan maupun ekstrem, melainkan melalui pendampingan medis yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *