Penyebab Tubuh Lemas Saat Puasa dan Cara Mengatasinya
Freemagz.id – Momentum World Sleep Day tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan, mengingatkan kembali pentingnya kualitas tidur di tengah perubahan pola hidup selama puasa. Banyak orang memulai Ramadan dengan semangat tinggi untuk beribadah sekaligus berharap tubuh terasa lebih sehat. Namun setelah beberapa hari, tak sedikit yang justru merasa mudah lelah, sulit fokus, hingga emosi menjadi lebih sensitif.

Kondisi ini ternyata tidak selalu berkaitan langsung dengan rasa lapar atau haus. Menurut sleep coach Vishal Dasani, tantangan utama saat Ramadan justru terletak pada perubahan ritme biologis tubuh atau circadian rhythm.
Selama bulan puasa, waktu tidur sering bergeser karena sahur atau aktivitas ibadah malam. Di saat yang sama, tubuh juga harus mencerna makanan pada waktu yang biasanya digunakan untuk beristirahat. Perubahan ini dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai circadian misalignment, yaitu ketidaksesuaian antara jam biologis tubuh dan pola aktivitas harian.
Akibatnya, kualitas tidur dapat menurun, terutama pada fase Rapid Eye Movement (REM) yang berperan penting dalam regulasi emosi dan pemrosesan mental. Ketika fase ini berkurang, seseorang bisa mengalami penurunan konsentrasi, sulit berpikir jernih, hingga menjadi lebih mudah tersulut emosi.

Selain pola tidur, kebiasaan makan saat Ramadan juga berpengaruh pada tingkat energi tubuh. Banyak orang mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar saat sahur dengan harapan energi akan bertahan lebih lama.
Namun menurut Marcomm Senior Manager Garmin Indonesia, Chandrawidhi Desideriani, pola tersebut justru bisa memicu lonjakan gula darah (glucose spike) yang diikuti penurunan energi secara cepat.
Ketika gula darah turun drastis beberapa jam kemudian, tubuh bisa mengalami fenomena yang sering disebut brain fog kondisi ketika otak terasa lambat, sulit fokus, dan tubuh mudah mengantuk di pagi hari.
Kebiasaan makan berlebihan saat berbuka juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Sistem pencernaan yang bekerja terlalu keras pada malam hari membuat suhu inti tubuh tetap tinggi, sehingga tubuh sulit memasuki fase deep sleep, yaitu tahap tidur yang penting untuk pemulihan fisik.

Agar tubuh tetap bugar selama Ramadan, beberapa langkah sederhana bisa membantu. Menjaga kualitas tidur setelah Tarawih, melakukan power nap sekitar 20 menit di siang hari, serta memilih makanan tinggi protein dan serat saat sahur dapat membantu menjaga energi lebih stabil sepanjang hari.
Olahraga ringan menjelang waktu berbuka juga dapat menjadi pilihan, selama intensitasnya disesuaikan dengan kondisi tubuh. Dengan manajemen tidur dan pola makan yang tepat, puasa tetap bisa dijalani dengan tubuh yang lebih segar dan fokus yang terjaga.

